MATERI DASAR PLC II

Kendali Motor 3 Fasa Melalui Inverter

START–STOP, Self-Holding, Dua Lampu Indikator, dan Troubleshooting


1. IDENTITAS PRAKTIK

Mata pelajaran: Teknik Kontrol / PLC
Materi: PLC Omron dan pengendalian motor menggunakan inverter
Tingkat: SMK / Mahasiswa / BLK / Teknisi Pemula
Metode: Praktik wiring, Ladder Diagram, pengujian, dan troubleshooting


2. TUJUAN PRAKTIK

Setelah melakukan praktik, peserta diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan fungsi PLC secara umum.
  2. Mengenali input dan output PLC Omron.
  3. Memahami kontak NO dan NC.
  4. Melakukan wiring tombol START dan STOP.
  5. Membuat rangkaian self-holding.
  6. Membuat Ladder Diagram START–STOP.
  7. Mengendalikan lampu indikator.
  8. Menghubungkan output PLC dengan input RUN inverter.
  9. Memahami hubungan PLC → inverter → motor.
  10. Melakukan simulasi kondisi START dan STOP.
  11. Menganalisis penyebab motor tidak RUN.
  12. Melakukan troubleshooting secara sistematis.

3. GAMBARAN SISTEM

Sistem yang akan dibuat:

     START NO
        │
        │
     STOP NC
        │
        ▼
┌─────────────────┐
│    PLC OMRON    │
│                 │
│  INPUT          │
│  0.00 START     │
│  0.01 STOP      │
│                 │
│  OUTPUT         │
│  100.00 RUN     │──────────► INVERTER
│  100.01 HIJAU   │
│  100.02 MERAH   │
└─────────────────┘                │
                                   │
                                   ▼
                                MOTOR
                                3 FASA

Konsep utamanya:

Input → PLC → Output → Inverter → Motor

PLC tidak langsung mengatur daya motor. PLC memberikan perintah kontrol kepada inverter, kemudian inverter mengendalikan motor.


4. KOMPONEN PRAKTIK

No.KomponenJumlah
1PLC Omron1
2Push button START NO1
3Push button STOP NC1
4Lampu indikator hijau1
5Lampu indikator merah1
6Inverter/VFD1
7Motor 3 fasa1
8Power supply kontrol sesuai sistem1
9Kabel kontrolSecukupnya
10Pengaman listrikSesuai rancangan

5. PEMAHAMAN NO DAN NC

5.1 START — Normally Open

START menggunakan kontak NO.

Kondisi normal:

───  ───
  OPEN

Ketika ditekan:

───┤ ├───
 CLOSED

Artinya PLC menerima sinyal START hanya ketika tombol ditekan.


6. STOP — Normally Closed

STOP menggunakan kontak NC.

Kondisi normal:

───┤ ├───
 CLOSED

Ketika ditekan:

───  ───
  OPEN

Dengan konfigurasi ini, ketika STOP ditekan, izin RUN motor hilang.

Penggunaan NC pada rangkaian STOP juga membantu mendeteksi sebagian kegagalan kabel/rangkaian kontrol, tetapi fungsi keselamatan mesin yang sebenarnya tetap harus menggunakan rancangan safety yang sesuai.


7. CONTOH PEMETAAN INPUT DAN OUTPUT

Untuk latihan:

AlamatNamaFungsi
0.00STARTPush button NO
0.01STOPPush button NC
100.00MOTOR_RUNPerintah RUN inverter
100.01LAMP_GREENLampu hijau
100.02LAMP_REDLampu merah

CATATAN PENTING

Alamat di atas adalah contoh pembelajaran.

PLC Omron mempunyai berbagai seri seperti CP, CJ, dan lainnya, dan format alamat/I/O dapat berbeda. Sebelum wiring, cocokkan alamat dengan model PLC dan konfigurasi I/O yang benar-benar digunakan.


8. KONSEP KERJA

Kita ingin sistem bekerja sebagai berikut:

Kondisi awal

Motor berhenti:

MOTOR_RUN = OFF
LAMP_GREEN = OFF
LAMP_RED = ON

START ditekan

START
  ↓
PLC menerima input
  ↓
MOTOR_RUN ON
  ↓
LAMP_GREEN ON
  ↓
LAMP_RED OFF
  ↓
Inverter menerima RUN
  ↓
Motor berjalan

START dilepas

Motor tetap berjalan.

Mengapa?

Karena kita menggunakan self-holding.

STOP ditekan

STOP
  ↓
MOTOR_RUN OFF
  ↓
LAMP_GREEN OFF
  ↓
LAMP_RED ON
  ↓
Perintah RUN inverter hilang
  ↓
Motor berhenti

9. WIRING INPUT PLC

Bagian ini harus disesuaikan dengan jenis input PLC Omron yang digunakan.

Untuk contoh sistem input DC:

         SUPPLY CONTROL
              +
              │
              │
        ┌─────┴─────┐
        │ START NO  │
        └─────┬─────┘
              │
              └────────────► INPUT 0.00

Untuk STOP:

         SUPPLY CONTROL
              +
              │
              │
        ┌─────┴─────┐
        │ STOP  NC  │
        └─────┬─────┘
              │
              └────────────► INPUT 0.01

Secara konseptual:

+24 V
 │
 ├──[ START NO ]────────► 0.00
 │
 └──[ STOP  NC ]────────► 0.01

Jangan menjadikan gambar konseptual ini sebagai pengganti diagram terminal PLC.

Terminal common input PLC harus mengikuti wiring diagram model PLC yang digunakan.


10. CARA MEMERIKSA INPUT

Sebelum membuat program motor, lakukan pengujian input.

START tidak ditekan

Periksa monitor PLC:

0.00 = OFF

START ditekan

0.00 = ON

Kemudian:

STOP dalam kondisi normal

Karena STOP menggunakan NC:

0.01 = ON

Ketika STOP ditekan:

0.01 = OFF

Ini sangat penting.

Jika status input tidak sesuai, jangan lanjut ke inverter terlebih dahulu.

Cari masalah wiring input.


11. WIRING OUTPUT LAMPU

Kita mempunyai dua lampu:

  • Lampu hijau = motor mendapat perintah RUN.
  • Lampu merah = motor dalam kondisi STOP.

Konsep:

PLC OUTPUT 100.01
        │
        ▼
   LAMPU HIJAU

dan:

PLC OUTPUT 100.02
        │
        ▼
   LAMPU MERAH

Diagram sederhana:

Output 100.01 ─────► Lampu Hijau
Output 100.02 ─────► Lampu Merah

Namun wiring sebenarnya bergantung pada jenis output PLC Omron.

Ada PLC dengan output relay dan ada konfigurasi output transistor. Tegangan beban dan common output harus disesuaikan dengan spesifikasi PLC.


12. MENGAPA LAMPU HIJAU DAN MERAH DIGUNAKAN?

Lampu bukan hanya hiasan.

Lampu merupakan informasi bagi operator.

Hijau

MOTOR_RUN = ON
        ↓
LAMP_GREEN = ON

Artinya PLC sedang memberikan perintah RUN.

Merah

MOTOR_RUN = OFF
        ↓
LAMP_RED = ON

Artinya sistem tidak memberikan perintah RUN.

Dalam sistem industri sebenarnya, status “perintah RUN” dan “motor benar-benar berputar” bisa berbeda. Karena itu sistem yang lebih maju menggunakan feedback RUN dari inverter.


13. LADDER DIAGRAM RUNG 1

START–STOP + SELF-HOLDING

 |----[/ STOP ]----+----[ START ]------------( MOTOR_RUN )
 |                 |
 |                 +----[ MOTOR_RUN ]--------|

Keterangan:

[/ STOP ]

= kondisi STOP harus mengizinkan sistem berjalan.

[ START ]

= perintah awal untuk menjalankan motor.

[ MOTOR_RUN ]

= kontak pengunci.

( MOTOR_RUN )

= coil perintah RUN.


14. CARA KERJA SELF-HOLDING

Pada awalnya:

START = OFF
MOTOR_RUN = OFF

Ketika START ditekan:

START = ON
       ↓
MOTOR_RUN = ON

Begitu MOTOR_RUN ON, kontak MOTOR_RUN pada cabang bawah ikut ON.

Kemudian START dilepas:

START = OFF
MOTOR_RUN = ON

Karena kontak MOTOR_RUN masih mempertahankan jalur, coil tetap aktif.

Inilah yang disebut:

Self-Holding / Seal-In Circuit.


15. LADDER RUNG 2

LAMPU HIJAU

 |----[ MOTOR_RUN ]----------------( LAMP_GREEN )

Jika MOTOR_RUN ON:

LAMP_GREEN = ON

Jika MOTOR_RUN OFF:

LAMP_GREEN = OFF

16. LADDER RUNG 3

LAMPU MERAH

 |----[/ MOTOR_RUN ]---------------( LAMP_RED )

Jika MOTOR_RUN OFF:

LAMP_RED = ON

Jika MOTOR_RUN ON:

LAMP_RED = OFF

17. LADDER LENGKAP

RUNG 1
 |----[/ STOP ]----+----[ START ]------------( MOTOR_RUN )
 |                 |
 |                 +----[ MOTOR_RUN ]--------|


RUNG 2
 |----[ MOTOR_RUN ]----------------( LAMP_GREEN )


RUNG 3
 |----[/ MOTOR_RUN ]---------------( LAMP_RED )

Secara logika:

START + izin STOP
       ↓
 MOTOR_RUN
       ↓
 ┌─────┴─────┐
 ▼           ▼
HIJAU       INVERTER
             ↓
            MOTOR

Sedangkan:

MOTOR_RUN OFF
      ↓
LAMP_RED ON

18. KONEKSI PLC KE INVERTER

Ini bagian yang sangat penting.

PLC akan memberikan perintah:

RUN / STOP

kepada terminal kontrol inverter.

Secara umum:

PLC OUTPUT
   │
   │ RUN command
   ▼
INVERTER CONTROL INPUT
   │
   ▼
INVERTER
   │
   │ U / V / W
   ▼
MOTOR

Namun setiap inverter dapat mempunyai nama terminal yang berbeda.

Misalnya suatu inverter dapat menggunakan terminal seperti:

DI / X1 / FWD / RUN
COM / DCM / CM

Tetapi inverter lain bisa menggunakan penamaan berbeda.

Jangan menganggap terminal FWD inverter A pasti sama dengan inverter B.


19. KONSEP WIRING RUN INVERTER

Misalnya inverter memiliki input digital:

RUN/FWD
COM

Maka secara konsep PLC harus membuat kondisi RUN pada input tersebut.

Untuk output relay PLC, salah satu konsepnya:

PLC OUTPUT
    │
    ├──────────────► RUN/FWD INVERTER
    │
   COM
    │
    └──────────────► COM INVERTER

Tetapi rangkaian aktual harus mengikuti:

  1. Jenis output PLC.
  2. Tegangan kontrol.
  3. Jenis input digital inverter.
  4. Common/source/sink inverter.
  5. Manual wiring inverter.

Jangan memberikan tegangan ke terminal inverter sebelum memastikan rating terminal tersebut.


20. HUBUNGAN DAYA MOTOR

Secara umum:

Sumber 3 Fasa
      │
      ▼
   INVERTER
      │
   U  V  W
      │
      ▼
   MOTOR 3 FASA

PLC berada pada sisi kontrol, bukan sebagai sumber daya motor.

Jadi jangan pernah melakukan:

PLC OUTPUT ─────► MOTOR 3 FASA

Yang benar secara konsep:

PLC ─────► CONTROL INPUT INVERTER
                    │
                    ▼
                  MOTOR

21. SETTING DASAR INVERTER

Sebelum motor dijalankan, inverter harus diatur agar sumber perintah RUN berasal dari terminal kontrol.

Parameter yang perlu diperiksa umumnya mencakup:

  1. Sumber perintah RUN.
  2. Sumber referensi frekuensi.
  3. Frekuensi maksimum.
  4. Frekuensi minimum.
  5. Acceleration time.
  6. Deceleration time.
  7. Data nameplate motor.
  8. Proteksi motor.

Nomor parameter tidak boleh ditebak, karena setiap merek dan seri inverter mempunyai parameter berbeda.


22. SIMULASI 1 — KONDISI AWAL

Sebelum START:

START       = OFF
STOP        = NORMAL
MOTOR_RUN   = OFF
GREEN       = OFF
RED         = ON

Tampilan:

🔴 MERAH = ON
🟢 HIJAU = OFF

MOTOR = STOP

23. SIMULASI 2 — START DITEKAN

Ketika START ditekan:

START = ON

PLC menjalankan:

MOTOR_RUN = ON

Kemudian:

GREEN = ON
RED = OFF

Dan output MOTOR_RUN memberikan perintah kepada inverter.

PLC
 ↓
RUN command
 ↓
INVERTER
 ↓
MOTOR

24. SIMULASI 3 — START DILEPAS

START kembali:

START = OFF

Tetapi:

MOTOR_RUN = ON

Mengapa?

Karena kontak self-holding:

[ MOTOR_RUN ]

masih mempertahankan coil.

Motor tetap berjalan.


25. SIMULASI 4 — STOP DITEKAN

Ketika STOP ditekan:

STOP NC → OPEN

Maka:

MOTOR_RUN = OFF

Kemudian:

GREEN = OFF
RED = ON

Output RUN inverter hilang.

Motor berhenti.


26. TABEL SIMULASI

KondisiSTARTSTOPMOTOR_RUNHijauMerahMotor
AwalOFFNormalOFFOFFONSTOP
START ditekanONNormalONONOFFRUN
START dilepasOFFNormalONONOFFRUN
STOP ditekanOFFAktifOFFOFFONSTOP

27. TROUBLESHOOTING SISTEMATIS

Jika motor tidak mau RUN, jangan langsung mengubah program.

Gunakan metode:

INPUT → PROGRAM → OUTPUT → INVERTER → MOTOR


28. TROUBLESHOOTING LEVEL 1 — INPUT

Pertama lihat input PLC.

Tekan START.

Apakah:

0.00 = ON ?

Jika tidak:

Periksa:

  • tombol START,
  • wiring,
  • supply kontrol,
  • common input,
  • alamat input,
  • terminal PLC.

Kemudian periksa STOP.

Dalam kondisi normal:

0.01 = ON

Ketika STOP ditekan:

0.01 = OFF

Jika STOP tidak sesuai, jangan lanjut ke tahap berikutnya.


29. TROUBLESHOOTING LEVEL 2 — PROGRAM

Jika input sudah benar tetapi motor tetap tidak RUN, lihat monitor Ladder.

Saat START ditekan:

START = ON
STOP condition = OK
MOTOR_RUN = ON ?

Jika MOTOR_RUN tidak ON:

Periksa:

  1. Ladder Rung 1.
  2. Alamat START.
  3. Alamat STOP.
  4. Alamat coil MOTOR_RUN.
  5. Kontak self-holding.
  6. Apakah ada interlock lain dalam program.

30. TROUBLESHOOTING LEVEL 3 — OUTPUT PLC

Jika Ladder menunjukkan:

MOTOR_RUN = ON

tetapi inverter tidak menerima RUN:

Periksa output PLC.

PLC PROGRAM
     ↓
MOTOR_RUN ON
     ↓
OUTPUT FISIK?

Jika output fisik tidak aktif:

Periksa:

  • jenis output PLC,
  • common output,
  • wiring,
  • fuse/pengaman,
  • konfigurasi output,
  • kondisi PLC.

31. TROUBLESHOOTING LEVEL 4 — INPUT RUN INVERTER

Jika output PLC sudah benar, periksa sisi inverter.

Pertanyaan:

Apakah terminal RUN/FWD inverter benar-benar menerima perintah?

Periksa:

  1. Terminal RUN yang digunakan.
  2. Terminal COM.
  3. Source/sink logic.
  4. Tegangan kontrol.
  5. Setting command source.
  6. Status input digital inverter.

32. TROUBLESHOOTING LEVEL 5 — INVERTER

Jika inverter menerima perintah RUN tetapi motor tidak berputar:

Periksa display inverter.

Apakah ada:

FAULT
ALARM
TRIP

Periksa juga:

  • frekuensi referensi,
  • command source,
  • frequency source,
  • parameter motor,
  • acceleration time,
  • status enable,
  • interlock,
  • emergency circuit.

33. TROUBLESHOOTING LEVEL 6 — MOTOR

Jika inverter sudah RUN tetapi motor tidak berputar:

Periksa:

  1. Kabel motor.
  2. Terminal U/V/W.
  3. Sambungan motor.
  4. Nameplate motor.
  5. Parameter motor.
  6. Beban mekanis.
  7. Kondisi motor.
  8. Fault inverter.

Pemeriksaan listrik pada sisi motor harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan dengan prosedur keselamatan yang benar.


34. TABEL TROUBLESHOOTING

GejalaKemungkinanPemeriksaan
START ditekan, input tidak ONWiring/inputCek 0.00
STOP selalu OFFWiring STOPCek 0.01
Input benar, MOTOR_RUN OFFProgramMonitor Ladder
MOTOR_RUN ON, output tidak aktifOutput/wiringCek output PLC
Output PLC ON, inverter tidak RUNWiring/settingCek terminal RUN
Inverter faultProteksiBaca kode fault
Inverter RUN tetapi motor diamMotor/wiring/parameterCek output inverter
Motor berjalan tetapi berhenti sendiriFault/interlockCek inverter dan program
Lampu hijau tidak menyalaOutput/wiringCek 100.01
Lampu merah tidak menyalaOutput/wiringCek 100.02

35. METODE TROUBLESHOOTING TEKNISI

Jangan menebak.

Gunakan metode berikut:

           MOTOR TIDAK RUN
                  │
                  ▼
          INPUT PLC BENAR?
             /          \
           TIDAK         YA
            │             │
       Periksa input      ▼
                     PROGRAM BENAR?
                       /       \
                     TIDAK      YA
                      │          │
                 Periksa PLC     ▼
                            OUTPUT AKTIF?
                              /      \
                            TIDAK      YA
                             │          │
                        Cek output      ▼
                                 INVERTER TERIMA RUN?
                                    /        \
                                  TIDAK       YA
                                   │           │
                              Cek wiring       ▼
                                          MOTOR RUN?
                                           /      \
                                         TIDAK      YA
                                          │
                                    Cek inverter,
                                    motor, beban

Inilah pola pikir troubleshooting yang sangat berguna bagi teknisi.


36. CHECKLIST PRAKTIK

Sebelum Power ON

[ ] Wiring sudah diperiksa
[ ] Tegangan supply benar
[ ] Input START benar
[ ] Input STOP benar
[ ] Output lampu benar
[ ] Wiring inverter benar
[ ] Motor sesuai inverter
[ ] Pengaman tersedia
[ ] Tidak ada kabel terkelupas
[ ] Area motor aman

Setelah PLC ON

[ ] PLC normal
[ ] START dapat dibaca
[ ] STOP dapat dibaca
[ ] Ladder dapat dimonitor
[ ] Lampu merah menyala

Setelah START

[ ] MOTOR_RUN ON
[ ] Lampu hijau ON
[ ] Lampu merah OFF
[ ] Output RUN aktif
[ ] Inverter menerima perintah

Setelah STOP

[ ] MOTOR_RUN OFF
[ ] Lampu hijau OFF
[ ] Lampu merah ON
[ ] Inverter menerima STOP
[ ] Motor berhenti


37. LATIHAN PESERTA

Jawablah pertanyaan berikut.

Soal 1

Apa perbedaan NO dan NC?

Soal 2

Mengapa tombol START menggunakan NO?

Soal 3

Mengapa tombol STOP umumnya menggunakan NC?

Soal 4

Apa fungsi self-holding?

Soal 5

Mengapa PLC tidak langsung dihubungkan ke motor 3 fasa?

Soal 6

Apa fungsi inverter?

Soal 7

Jika input START ON tetapi MOTOR_RUN tidak ON, bagian mana yang harus diperiksa?

Soal 8

Jika MOTOR_RUN ON tetapi inverter tidak RUN, apa saja kemungkinan penyebabnya?

Soal 9

Apa perbedaan “PLC memberikan perintah RUN” dengan “motor benar-benar RUN”?

Soal 10

Mengapa teknisi harus melakukan troubleshooting dari INPUT → PROGRAM → OUTPUT → INVERTER → MOTOR?


38. PENGEMBANGAN LEVEL BERIKUTNYA

Setelah peserta berhasil dengan program dasar, sistem dapat dikembangkan menjadi:

Level 1

START–STOP + self-holding.

Level 2

Tambahkan Emergency Stop sesuai rancangan safety.

Level 3

Tambahkan feedback RUN dari inverter.

Level 4

Tambahkan indikator FAULT.

Level 5

Tambahkan selector:

MANUAL / AUTO

Level 6

Tambahkan timer.

Contoh:

START
  ↓
Timer 3 detik
  ↓
Motor RUN

Level 7

Tambahkan sensor.

Sensor
  ↓
PLC
  ↓
Inverter
  ↓
Motor

Level 8

Buat sistem otomatis penuh.

Misalnya:

START
 ↓
Motor 1 RUN
 ↓
Sensor aktif
 ↓
Motor 2 RUN
 ↓
Timer
 ↓
Motor STOP

Pada tahap ini peserta sudah mulai memasuki konsep sequence control yang banyak digunakan pada mesin industri.


39. KESIMPULAN

Dari satu praktik sederhana ini peserta sebenarnya sudah mempelajari beberapa dasar yang sangat penting:

INPUT
  ↓
LOGIKA PLC
  ↓
OUTPUT
  ↓
INVERTER
  ↓
MOTOR

START dan STOP mengajarkan dasar input.

Self-holding mengajarkan logika kontrol.

Lampu mengajarkan output dan indikator.

Inverter mengajarkan hubungan antara kontrol dan tenaga.

Troubleshooting mengajarkan cara berpikir teknisi.


40. PESAN UNTUK SISWA, MAHASISWA, DAN PESERTA BLK

Jangan hanya menghafal Ladder Diagram.

Kalau melihat:

|----[ START ]----( MOTOR )----|

jangan hanya bertanya:

“Ini programnya bagaimana?”

Biasakan bertanya:

“Input apa yang masuk?”

“PLC mengambil keputusan apa?”

“Output apa yang keluar?”

“Perangkat berikutnya menerima sinyal apa?”

“Kalau motor tidak jalan, di titik mana sinyal berhenti?”

Inilah yang membedakan antara orang yang sekadar bisa mengetik program dengan teknisi yang mampu memahami dan mencari kerusakan sebuah sistem.

Mulailah dari rangkaian sederhana.

Pahami satu kontak.

Pahami satu coil.

Pahami self-holding.

Kemudian tambahkan timer, counter, sensor, interlock, inverter, dan feedback sedikit demi sedikit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top