Pada sistem pabrikasi model dahulu, kontrol mesin tidak menggunakan PLC (Programmable Logic Controller), melainkan mengandalkan sistem logika relai konvensional (Relay Logic Control). Sistem ini sepenuhnya menggunakan kombinasi komponen elektromekanis seperti kontaktor magnetik, relai kontrol, tombol tekan (push button), dan pengaman termal.
Sebagai contoh konkret yang paling sering digunakan pada pabrikasi model dahulu, berikut adalah Wiring Diagram Konvensional untuk Rangkaian DOL (Direct On Line) Starter dengan Sistem Pengunci (Latch/Self-Holding). Rangkaian ini biasanya digunakan untuk menyalakan dan mematikan motor 3-Fasa pada mesin pabrik (seperti konveyor, pompa, atau mesin bubut lama).
1. Komponen yang Dibutuhkan
- MCB 3-Phase: Pengaman arus hubung singkat untuk jalur daya motor.
- MCB 1-Phase: Pengaman untuk jalur kontrol/kendali.
- Kontaktor Magnetik (K1): Sakelar elektromekanis utama untuk menyalurkan listrik ke motor. Memiliki kontak utama (NO) dan kontak bantu (auxiliary contact NO/NC).
- Thermal Overload Relay (TOR): Pengaman motor dari beban lebih (overheat).
- Push Button STOP (NC): Tombol darurat/berwarna merah untuk mematikan mesin.
- Push Button START (NO): Tombol berwarna hijau untuk menyalakan mesin.
- Motor 3-Fasa: Beban utama (mesin pabrik).
2. Deskripsi Pengabelan (Wiring Description)
Rangkaian dibagi menjadi dua bagian utama khas model dahulu: Rangkaian Daya (Power) dan Rangkaian Kontrol (Control).
A. Rangkaian Daya (Mengalirkan Arus Besar ke Motor)
- Hubungkan sumber listrik 3 Fasa (R, S, T) ke bagian atas (input) MCB 3-Phase.
- Dari output MCB 3-Phase, hubungkan kabel ke kontak utama Kontaktor (K1) pada terminal 1/L1, 3/L2, dan 5/L3.
- Di bagian bawah kontaktor (output terminal 2/T1, 4/T2, 6/T3), pasang/hubungkan langsung ke pin input Thermal Overload Relay (TOR).
- Dari terminal output TOR (2/T1, 4/T2, 6/T3), hubungkan kabel langsung menuju terminal gulungan Motor 3-Fasa (U, V, W).
B. Rangkaian Kontrol (Sistem Logika Pengendali)
Sistem ini menggunakan tegangan 1-fasa (220V). Mari kita urutkan jalurnya secara seri dan paralel:
- Jalur Utama: Ambil salah satu fasa (misalnya Fasa R) menuju input MCB 1-Phase.
- Pengaman TOR: Dari output MCB 1-Phase, hubungkan kabel ke kontak bantu NC milik TOR (Terminal nomor 95). Kemudian dari output TOR (Terminal nomor 96), teruskan kabel menuju input Push Button STOP.
- Tombol STOP ke START: Dari output Push Button STOP, hubungkan kabel ke input Push Button START.
- Sistem Pengunci (Latch) Konvensional: Agar mesin tetap menyala saat tombol START dilepas, kita harus memasang kontaktor bantu secara paralel.
- Tarik kabel dari input Push Button START menuju Kontak Bantu NO milik Kontaktor K1 (Terminal nomor 13).
- Tarik kabel dari output Push Button START menuju Kontak Bantu NO milik Kontaktor K1 (Terminal nomor 14).
- Menuju Koil: Dari output Push Button START (atau dari terminal NO 14 tadi), hubungkan kabel ke koil kontaktor K1 (Terminal A1).
- Jalur Netral: Hubungkan langsung kabel Netral (N) dari sumber listrik menuju koil kontaktor K1 (Terminal A2).
3. Cara Kerja Rangkaian Ini
- Kondisi Awal: Saat MCB dinyalakan, arus tertahan di Push Button START dan Kontak NO 13-14 Kontaktor. Motor masih mati.
- Saat Tombol START Ditekan: Arus mengalir menuju Koil A1. Kontaktor K1 menjadi magnet, menarik semua sakelar di dalamnya. Kontak daya menutup (motor menyala) dan Kontak Bantu NO (13-14) menutup.
- Sistem Pengunci Aktif: Saat Anda melepas tekanan dari tombol START, arus listrik sekarang berputar mengalir melewati Kontak Bantu NO (13-14) yang sudah menutup tadi. Ini membuat koil tetap mendapat setrum (terkunci).
- Saat Tombol STOP Ditekan: Jalur kontrol terputus, kemagnetan kontaktor hilang, sakelar kembali terbuka, dan motor berhenti total.
- Saat Beban Lebih (Overload): Jika motor terlalu panas, mekanisme bimetal di TOR akan memicu kontak 95-96 terbuka secara mekanis, sehingga memutus seluruh sistem kontrol demi keamanan.