BAB 13 # BELAJAR PLC DASAR TROUBLE SHOOTING MESIN INDUSTRI BERBASIS PLC

TROUBLESHOOTING MESIN INDUSTRI BERBASIS PLC

Tema utama:

“Dari Gejala → Pengukuran → Analisis → Menemukan Penyebab → Perbaikan → Verifikasi.”

Bab ini akan mengajarkan satu hal penting:

Jangan langsung mengganti komponen. Temukan dahulu titik gangguannya dengan bukti.


1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Bab 13, teknisi diharapkan mampu:

  • Membaca keluhan operator.
  • Membaca alarm pada HMI.
  • Membaca wiring diagram.
  • Membaca status input/output PLC.
  • Mengikuti alur ladder.
  • Menggunakan AVO meter sesuai prosedur.
  • Memeriksa sensor dan aktuator.
  • Memeriksa relay/kontaktor.
  • Memeriksa VFD.
  • Membedakan kemungkinan gangguan listrik, kontrol, dan mekanik.
  • Menentukan penyebab gangguan secara bertahap.
  • Melakukan verifikasi setelah perbaikan.
  • Membuat laporan troubleshooting.

2. Prinsip Dasar Troubleshooting

Gunakan urutan:

KELUHAN OPERATOR
       ↓
   GEJALA MESIN
       ↓
   ALARM / HMI
       ↓
 WIRING DIAGRAM
       ↓
   INPUT PLC
       ↓
    LADDER
       ↓
  OUTPUT PLC
       ↓
RELAY / VFD / AKTUATOR
       ↓
      MOTOR
       ↓
    MEKANIK

Tidak semua kasus harus mengikuti jalur persis ini, tetapi urutan tersebut memberikan kerangka berpikir yang kuat.


3. Kasus 1 — Mesin Tidak Mau START

Operator berkata:

“Pak, mesin tidak mau jalan.”

Jangan langsung menyimpulkan PLC rusak.

Langkah 1 — Lihat HMI

Periksa:

Machine Status : STOP
Alarm          : ?
Safety         : ?
Emergency Stop : ?

Jika terdapat alarm, catat terlebih dahulu.


Langkah 2 — Periksa kondisi START

Misalnya:

HMI START = ON

Tetapi motor tetap tidak bergerak.

Kita lanjut.


Langkah 3 — Periksa input PLC

Misalnya:

X0 = START
X1 = STOP
X2 = SAFETY
X3 = SENSOR

Hasil:

X0 = ON
X1 = OK
X2 = OFF   ← PERLU DIPERIKSA
X3 = ON

Berarti kita sudah menemukan petunjuk penting.

Jangan langsung memeriksa motor.

Cari mengapa X2 belum terpenuhi.


4. Kasus 2 — Sensor Tidak Masuk ke PLC

Misalnya sensor memiliki indikator:

Sensor LED = ON

Tetapi:

PLC X2 = OFF

Maka alurnya:

Sensor
  ↓
Output sensor
  ↓
Kabel
  ↓
Terminal
  ↓
PLC X2

Kita cari di mana sinyal hilang.

Dengan wiring diagram dan alat ukur yang sesuai, teknisi dapat membandingkan kondisi pada setiap titik.


5. Kasus 3 — PLC Output Tidak Aktif

Misalnya:

X0 = ON
X1 = ON
X2 = ON

Tetapi:

Y0 = OFF

Sekarang buka ladder.

Misalnya terdapat:

|--[X0]--[X1]--[X2]--[/X4]--(Y0)--|

Periksa X4.

Jika:

X4 = ON

maka kontak [/X4] tidak memenuhi kondisi rung.

Kita menemukan bahwa logika interlock mencegah Y0 aktif.

Sekarang pertanyaan berikutnya:

Mengapa X4 aktif?

Inilah cara troubleshooting yang benar-benar mengikuti logika mesin.


6. Kasus 4 — PLC Output ON, tetapi Motor Tidak Jalan

Ini kasus yang sangat penting.

Misalnya:

Y0 = ON

Tetapi:

Motor = OFF

Jangan mengatakan:

“PLC rusak.”

Karena PLC justru sudah memberikan perintah.

Kita ikuti:

Y0
 ↓
Terminal
 ↓
Relay/interface
 ↓
VFD / kontaktor
 ↓
Motor

Cari titik di mana perintah berhenti.


7. Kasus 5 — VFD Fault

Misalnya HMI menunjukkan:

MOTOR DRIVE FAULT

Teknisi kemudian melihat display VFD dan mendapatkan kode fault.

Jangan menebak arti kode tersebut.

Gunakan:

FAULT CODE
     ↓
MANUAL VFD
     ↓
ARTI FAULT
     ↓
KEMUNGKINAN PENYEBAB
     ↓
PEMERIKSAAN
     ↓
TINDAKAN

Kode fault harus selalu dicocokkan dengan merek dan model VFD yang digunakan.


8. Kasus 6 — Motor Overload

Misalnya:

VFD
 ↓
OVERLOAD

Kita jangan hanya fokus pada listrik.

Periksa kemungkinan:

Motor
 ↓
Kabel / koneksi
 ↓
Beban mekanis
 ↓
Bearing
 ↓
Conveyor
 ↓
Kopling
 ↓
Parameter drive
 ↓
Kondisi proses

Karena overload adalah gejala, bukan selalu akar masalah.


9. Kasus 7 — Mesin Kadang Jalan, Kadang Berhenti

Ini salah satu gangguan yang paling menyulitkan.

Contoh:

08:00 → Normal
09:00 → Stop
09:02 → Normal
10:15 → Stop
10:17 → Normal

Teknisi perlu mencurigai kemungkinan gangguan intermittent.

Pemeriksaan dapat diarahkan pada:

  • Terminal.
  • Konektor.
  • Kabel bergerak.
  • Sensor.
  • Power supply.
  • Komunikasi.
  • Getaran.
  • Temperatur.
  • Kondisi mekanis.

Catat kapan gangguan terjadi. Data waktu sering sangat membantu.


10. Memisahkan Gangguan Listrik dan Mekanik

Ini kemampuan penting teknisi.

Misalnya motor tidak bergerak.

Kemungkinan listrik:

Tidak ada command
Output tidak aktif
Kontaktor tidak aktif
VFD fault
Kabel bermasalah
Proteksi trip

Kemungkinan mekanik:

Bearing bermasalah
Beban macet
Conveyor tersangkut
Kopling bermasalah
Gearbox bermasalah

Jadi teknisi harus menentukankaian bertegangan ber:

Masalahnya berada di sistem kontrol, sistem listrik, atau sistem mekanik?


11. Gunakan “titik pembuktian”

Ini prinsip yang sangat saya rekomendasikan untuk siswa.

Jangan berkata:

“Saya kira kabelnya putus.”

Ubah menjadi:

“Saya sudah memeriksa titik A dan sinyal ada. Pada titik B sinyal tidak ada. Berdasarkan wiring diagram, gangguan berada di antara A dan B.”

Ini adalah perbedaan antara menebak dan troubleshooting.


12. AVO Meter sebagai alat pembuktian

Wiring diagram mengatakan:

Seharusnya ada tegangan di titik A.

AVO meter membantu membuktikan:

Ada tegangan?
Tidak ada?
Berapa nilainya?
Stabil atau tidak?

Namun pengukuran harus dilakukan dengan mode, range, titik ukur, dan kategori keselamatan alat yang benar. Untuk rangkaian bertegangan berbahaya, ikuti prosedur kerja aman dan gunakan alat yang sesuai.


13. Jangan mengukur secara sembarangan

Sebelum mengukur, teknisi harus mengetahui:

  1. Apa yang ingin diukur?
  2. AC atau DC?
  3. Berapa perkiraan tegangannya?
  4. Di mana titik ukurnya?
  5. Apakah rangkaian harus bertegangan?
  6. Apakah pekerjaan tersebut aman dilakukan?
  7. Apakah perlu isolasi energi/LOTO?

Ini juga penting untuk siswa.

AVO meter bukan sekadar alat untuk menempelkan probe ke kabel.


14. Setelah perbaikan, pekerjaan belum selesai

Misalnya kita menemukan kabel sensor bermasalah dan memperbaikinya.

Jangan langsung berkata:

“Sudah selesai.”

Lakukan:

PERBAIKAN
   ↓
TEST INPUT
   ↓
TEST LADDER
   ↓
TEST OUTPUT
   ↓
TEST MESIN
   ↓
MONITORING
   ↓
CATAT HASIL

15. Verifikasi adalah bagian dari troubleshooting

Contoh:

Sebelum:
Sensor X2 = OFF abnormal

Perbaikan:
Wiring diperbaiki

Sesudah:
Sensor X2 = ON normal
Ladder berjalan
Y0 = ON
Motor berjalan

Barulah kita memiliki bukti bahwa perbaikan berhasil.


16. Root Cause — jangan berhenti di komponen rusak

Misalnya ditemukan:

Sensor rusak.

Itu belum tentu akar masalah.

Tanyakan:

Mengapa sensor rusak?
       ↓
Apakah terkena benturan?
       ↓
Apakah terkena cairan?
       ↓
Apakah kabel tertarik?
       ↓
Apakah supply tidak sesuai?
       ↓
Apakah pemasangannya salah?
       ↓
Apakah lingkungan terlalu panas?

Dengan demikian teknisi tidak hanya mengganti sensor, tetapi berusaha mencegah kerusakan yang sama terulang.


17. Format laporan troubleshooting

Saya sarankan siswa dan teknisi dibiasakan membuat laporan sederhana:

MESIN        : Conveyor 01
TANGGAL      : __________
OPERATOR     : __________

KELUHAN:
Mesin tidak mau START.

TEMUAN:
X2 safety input tidak aktif.

PEMERIKSAAN:
Diperiksa rangkaian safety sesuai wiring diagram.

PENYEBAB:
________________________

TINDAKAN:
________________________

HASIL TEST:
________________________

STATUS:
□ Normal
□ Monitoring
□ Perlu tindakan lanjutan

Laporan seperti ini sangat berharga untuk histori maintenance.


18. Prinsip emas Bab 13

Saya ingin siswa mengingat 7 langkah ini:

1. AMATI
   ↓
2. TANYAKAN
   ↓
3. BACA
   ↓
4. UKUR
   ↓
5. ANALISIS
   ↓
6. PERBAIKI
   ↓
7. VERIFIKASI

Atau dengan bahasa teknisi:

Lihat → Baca → Ukur → Buktikan → Perbaiki → Test → Catat.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top