BAB 7 # BELAJAR PLC DASAR TIMER, COUNTER DAN SEQUENCE PLC

TIMER, COUNTER, DAN SEQUENCE PLC

1. Mengapa Timer dan Counter diperlukan?

Bayangkan sebuah conveyor di pabrik.

Sensor mendeteksi botol:

BOTOL
  ↓
SENSOR
  ↓
PLC
  ↓
CONVEYOR

Tetapi kita ingin:

Setelah sensor mendeteksi botol, tunggu 3 detik kemudian hidupkan solenoid.

Kita membutuhkan Timer.

Atau:

Setelah 20 botol lewat, conveyor berhenti.

Kita membutuhkan Counter.

Jadi:

  • Timer = menghitung waktu
  • Counter = menghitung kejadian/benda

2. Timer PLC

Secara sederhana:

X0 ON
  ↓
TIMER
  ↓
Tunggu 3 detik
  ↓
Y0 ON

Contoh ladder konseptual:

|----[ X0 ]--------[ TON T0 3s ]----|
|
|----[ T0 ]----------------( Y0 )---|

Artinya:

X0 ON → timer mulai menghitung → setelah 3 detik → Y0 ON.

Sintaks timer berbeda menurut merek PLC. Diagram di atas adalah konsep pembelajaran, bukan kode universal untuk semua PLC.


3. Contoh kerja Timer

Misalnya sensor mendeteksi benda pada:

08:00:00

Timer diset:

3 detik

Maka:

0 detik → mulai
1 detik → menghitung
2 detik → menghitung
3 detik → selesai
          ↓
         Y0 ON

Siswa bisa melihat bahwa PLC tidak hanya berpikir:

ON / OFF

tetapi juga:

ON → tunggu → lakukan sesuatu.


4. Contoh di pabrik

Misalnya ada conveyor dan cylinder.

Sensor
  ↓
Benda terdeteksi
  ↓
Timer 2 detik
  ↓
Solenoid ON
  ↓
Cylinder maju

Aplikasi seperti ini dapat digunakan untuk:

  • Proses sortir
  • Pendorong benda
  • Pengisian
  • Pemindahan benda
  • Penundaan motor
  • Urutan proses mesin

5. Counter PLC

Sekarang kita masuk ke counter.

Misalnya sensor menghitung produk:

Produk 1 → X0 → Counter = 1
Produk 2 → X0 → Counter = 2
Produk 3 → X0 → Counter = 3
...
Produk 10 → X0 → Counter = 10

Setelah mencapai 10:

Counter = 10
     ↓
     Y0 ON/OFF

Misalnya kita ingin conveyor berhenti:

Sensor
  ↓
Counter
  ↓
10 benda
  ↓
Conveyor STOP

6. Timer + Counter digabung

Nah, sahabatku, ini mulai menjadi aplikasi industri yang menarik.

Misalnya mesin mengisi 10 botol.

Urutannya:

START
  ↓
Conveyor ON
  ↓
Sensor mendeteksi botol
  ↓
Counter +1
  ↓
Apakah sudah 10?
  ↓
 BELUM ──→ lanjut
  ↓
 SUDAH
  ↓
Conveyor STOP
  ↓
Timer 5 detik
  ↓
Proses berikutnya

Di sini siswa sudah belajar:

Input → program → timer/counter → output.


7. Start–Stop yang benar secara konsep

Untuk teknisi pabrik, rangkaian Start–Stop adalah materi wajib.

Misalnya:

  • START = X0
  • STOP = X1
  • Motor command = Y0

Konsep ladder:

|----[/X1]----+----[ X0 ]----( Y0 )
|             |
|             +----[ Y0 ]----|

Cara kerjanya:

Saat START ditekan

X0 ON
 ↓
Y0 ON
 ↓
Motor command ON

Ketika tombol START dilepas:

X0 OFF
 ↓
Y0 tetap ON

Karena ada self-holding.

Saat STOP ditekan

X1 aktif
 ↓
Rangkaian logika terputus
 ↓
Y0 OFF
 ↓
Motor berhenti

8. Mengapa self-holding penting?

Karena operator biasanya hanya menekan START sebentar.

Kita tidak ingin operator harus terus menekan tombol.

Tekan START
     ↓
Motor ON
     ↓
Lepaskan START
     ↓
Motor tetap ON

Inilah fungsi dasar seal-in/self-holding.


9. Interlock

Untuk teknisi pabrik, setelah Start–Stop kita perlu mengenal interlock.

Misalnya sebuah motor memiliki dua arah:

FORWARD
REVERSE

Kita tidak boleh membiarkan kedua kontaktor aktif bersamaan.

Secara konsep:

FORWARD ────────┐
                │
             INTERLOCK
                │
REVERSE ────────┘

Jika Forward ON:

REVERSE tidak boleh ON

Jika Reverse ON:

FORWARD tidak boleh ON

Interlock dapat dibuat melalui logika PLC dan/atau interlock hardware, tergantung desain keselamatan mesin.

Ini sangat penting untuk mencegah kondisi yang dapat merusak peralatan.


10. Emergency Stop berbeda dengan STOP biasa

Ini penting untuk teknisi pabrik.

STOP biasa adalah bagian dari operasi normal.

Emergency Stop adalah fungsi keselamatan untuk kondisi darurat.

Jangan menganggap:

STOP = EMERGENCY STOP

Keduanya mempunyai tujuan berbeda.

Rangkaian keselamatan mesin harus dirancang sesuai standar dan risiko mesin, dan pada mesin industri tertentu menggunakan safety relay atau safety PLC.


11. Contoh mini conveyor pabrik

Sekarang kita gabungkan semuanya.

Input

X0 = START
X1 = STOP
X2 = Sensor produk
X3 = Emergency/safety input*

Output

Y0 = Conveyor
Y1 = Solenoid
Y2 = Lampu indikator

Proses

START
  ↓
Conveyor ON
  ↓
Sensor mendeteksi produk
  ↓
Counter +1
  ↓
Produk mencapai 10?
  │
  ├── BELUM → Conveyor terus
  │
  └── SUDAH
        ↓
     Conveyor OFF
        ↓
      Timer
        ↓
   Proses berikutnya

* Untuk mesin nyata, fungsi keselamatan tidak boleh sekadar mengandalkan logika program biasa; desain keselamatan harus mengikuti risiko dan arsitektur safety yang sesuai.


12. Troubleshooting Timer

Misalnya:

Sensor ON, tetapi output setelah 3 detik tidak ON.

Teknisi jangan langsung mengganti PLC.

Periksa:

Sensor X0
   ↓
Apakah X0 ON?
   ↓
Timer mulai?
   ↓
Nilai preset benar?
   ↓
Timer selesai?
   ↓
Kontak timer berubah?
   ↓
Output Y0 bekerja?

Ini melatih pola pikir teknisi:

ikuti urutan logika PLC.


13. Troubleshooting Counter

Misalnya counter tidak bertambah.

Periksa:

Produk lewat
     ↓
Sensor bekerja?
     ↓
Input PLC ON/OFF?
     ↓
Program counter menerima pulsa?
     ↓
Counter bertambah?

Kalau sensor menyala tetapi counter tidak bertambah, kemungkinan masalah dapat berada pada:

  • Program
  • Alamat input
  • Kondisi pulsa
  • Wiring
  • Sensor
  • Konfigurasi counter

14. Latihan untuk teknisi pabrik

Saya sarankan latihan berikut.

Latihan 1 — Timer

Buat:

Sensor ON → tunggu 5 detik → lampu ON.

Latihan 2 — Counter

Buat:

Setiap benda yang melewati sensor dihitung. Setelah 10 benda, lampu indikator ON.

Latihan 3 — Start–Stop

Buat:

START → motor command ON → tetap ON setelah START dilepas → STOP → OFF.

Latihan 4 — Kombinasi

Buat:

START → conveyor berjalan → sensor menghitung produk → produk ke-10 → conveyor berhenti → timer 5 detik → indikator menyala.

Ini sudah merupakan mini sequence control.


Cara berpikir teknisi pabrik

Saya ingin sahabatku menjadikan ini prinsip utama untuk siswa:

Jangan hanya bertanya “komponen mana yang rusak?”

Tanyakan:

  1. Apa perintahnya?
  2. Input mana yang harus ON?
  3. Apa yang dilakukan program?
  4. Timer/counter bekerja atau tidak?
  5. Output mana yang seharusnya ON?
  6. Apakah relay/kontaktor menerima perintah?
  7. Apakah beban benar-benar bekerja?

Dengan demikian troubleshooting menjadi sistematis.


Terima kasih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top